| |
Dengan sosoknya yang imut dan menggemaskan, landak mini mampu membuat banyak pengemar binatang kesengsem untuk memeliharanya. Karena masih langka, harga landak mini mini cukup tinggi sehingga budidaya landak mini berpeluang jadi bisnis menguntungkan.
Begitu mendengar kata “landak” pasti di benak kita terbayang sosok hewan berduri tajam yang hidup di hutan atau kebun. Namun jenis landak yang satu ini berbeda, tidak seperti landak besar Hystrix brachyura yang duri tajamnya sepanjang 7,5 cm tapi duri landak mini hanya sepanjang 1,5 cm dan juga lebih lunak. Karena lunak, duri itu tidak akan melukai kulit.
Landak mini alias landak susu (hedgehog) kini tengah menjadi hewan peliharaan baru yang sedang tren setelah era hamster. Meski sama-sama memiliki duri di bagian punggung, landak mini bukan anggota suku landak-landakan (hystricidae) dari kelompok rodensia.
Landak mini termasuk erinaceidae dari bangsa insektivora alias pemakan serangga. Landak mini memiliki bentuk badan oval dengan panjang badan hanya 15 cm-20 cm. Bobot tubuhnya yang mungil hanya 200 gram hingga 600 gram. Bahkan, landak mini berukuran paling besar bobotnya cuma 700 gram-900 gram.
Di Indonesia landak mini masih tergolong langka atau sulit dicari padahal permintaan akan binatang yang satu ini terus meningkat dan keunikan binatang asal Afrika Tengah ini menjadi pintu masuk bisnis baru yang menjanjikan, yaitu pembiakan atau peternakan landak mini.
Sebagian pengusaha yang jeli sudah memulai merintis usaha ini. Merek mengatakan, dengan ukuran yang mungil, banyak orang kesengsem memelihara landak mini sebagai peliharaan. “Permintaan datang bertubi, dari anakan sampai indukan,” ujar Cuncun Setiawan, peternak landak mini di Bintaro, Tangerang, April lalu. Tak cuma dari Pulau Jawa, permintaan juga datang dari Medan, Palembang, Makassar.
Menjadi tren sejak tahun 2009, kecintaan pehobi landak hingga kini belum memudar, terus menjalar ke seluruh wilayah Tanah Air. Cuncun bahkan mengaku, dia sampai kehabisan stok. “Sekarang tinggal satu pasang anakan saja,” ujarnya senang. Para pembeli adalah pehobi landak mini dan calon pengusaha yang mau berbisnis dengan membudidayakan landak mini.
Merintis bisnis landak mini sejak Februari 2008, Cuncun awalnya hanya memiliki sepasang landak mini. Budidaya lantas dia lakukan hingga landak mengembang menjadi 300 induk. Beberapa varian landak mini yang ia kembangkan adalah albino, algerian, salt and pepper, pinto, silver, charcoal, dan silver charcoal.
Lalu, ada juga platinum dasar hitam, platinum dasar cokelat, brown, brown snowflake, cinnamon, dan black eyed cinnicot. “Yang paling banyak dipesan jenis albino, pinto, dan salt and pepper karena murah harganya,” ujarnya.
Cuncun membanderol landak mini anakan Rp 1 juta hingga Rp 10 juta per pasang. Adapun, landak mini indukan dia jual Rp 1,5 juta sampai Rp 15 juta per pasang.
Saat ini, dia tengah mengimpor induk landak mini dari Thailand. Dua jenis yang diimpornya yakni rubby eyed cinnicot dan algenian. Sesuai dengan namanya, rubby eyed cinnicot bermata rubi dengan duri kuning. Adapun algerian memiliki duri lebih hitam dari jenis salt and pepper yang punya duri abu-abu.
Harga jual anakan ruby eye cinnicot biasanya lebih mahal mencapai Rp 8 juta per pasang. “Ada yang mau beli Rp 12,5 juta per pasang tapi tidak saya lepas karena saya lagi kembangkan induk,” kata Cuncun.
Saat ini, Cuncun senang mengembangkan landak mini impor karena landak mini di pasaran Indonesia terlalu banyak yang sedarah. Landak yang sedarah, yakni berasal dari satu bapak dan satu ibu, berpotensi menghasilkan anakan dengan sifat yang lebih jelek dari orang tua atau tidak lebih baik dari induknya. “Tapi, saya menghindari perkawinan sedarah,” kata Cuncun yang mengaku bisa mendapat omzet Rp 30 juta hingga Rp 40 juta per bulan.
Peternak landak mini lain, Yoshi juga mengalami peningkatan permintaan landak mini. “Penjualan saya tahun ini (2011) meningkat 20% dibandingkan dengan tahun lalu,” kata Yoshi kini punya 100 landak mini yang dia ternakknya di rumahnya, April lalu.
Pemuda berusia 25 tahun ini melego sepasang landak mini bayi berjenis albino seharga Rp 800.000 per pasang. Untuk landak mini bayi salt and pepper Rp 900.000 per pasang. Jenis platinum, dia patok dengan harga Rp 5 juta per pasang. “Banyak orang mencari landak mini bayi agar lebih jinak kalau besar,” tutur Yoshi.
Saban bulan, Yoshi bisa menjual rata-rata 10 pasang landak mini. Penjualannya masih di Pulau Jawa. Dia belum merambah luar Pulau Jawa karena terhambat cara pengiriman.


0 komentar:
Posting Komentar